AKEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP AGAMA. Secara naluri, manusia mengakui kekuatan dalam kehidupan di luar dirinya. Dapat dilihat ketika manusia mengalami kesulitan hidup, musibah, dan berbagai bencana. Manusia mengeluh dan meminta pertolongan kepada sesuatu yang serba maha, yang dapat membebaskannya dari keadaan tersebut.
sistembudaya yang sarat dengan doktrin dan nilai-nilai senantiasa menjadi kebutuhan kolektif manusia terutama pada saat menghadapi situasi yang meruntuhkan sendi-sendi penopang kehidupan manusia. Oleh karena itu, kesadaran teologis yang membudaya merupakan kajian antropologi agama yang menjadi sub kajian antropologi budaya.
DogmaCalvinisme yang paling khas adalah doktrin predestinasi. Calvinis percaya Tuhan menentukan siapa manusia yang diselamatkan dan yang terkutuk. Calvinis datang dengan ide ini pada kebutuhan logis dan pendasaran argumentasi semata-mata. Untuk mempertanyakan nasib seseorang mirip dengan hewan yang mengeluh itu tidak terlahir
Demokrasimerupakan kebutuhan manusia, memiliki indikator yang bisa diukur dan pertanggungjawabannya hanya pada manusia, sementara Islam merupakan doktrin, hanya dapat diukur Laiqrah fiâdhin (tidak ada pemaksaan dalam agama) atau Lakum dienukum waliyadien (bagimu agamamu, bagiku agamaku),
Keberadaandan latar belakang diciptakannya manusia dan hal- hal l | e-Buku | 1997 telah menjadi situs yang menjadi salah satu sumber informasi kekristenan bagi masyarakat Kristen Indonesia di dunia internet. DOKTRIN MANUSIA Judul buku : Teologi Sistematika Volume 2: Doktrin Manusia Judul asli : -- Penulis/Penyusun: Louis
ManuelCastells [1] Teknologi, budaya, dan agama adalah tiga entitas penting yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia dewasa ini. Secara esensial, teknologi, budaya, dan agama adalah tiga entitas yang berbeda, tetapi pada perkembangannya saat ini, ketiga entitas tersebut menjadi berinterrelasi secara integral.
. 100% found this document useful 1 vote3K views8 pagesCopyright© Attribution Non-Commercial BY-NCAvailable FormatsDOC, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?100% found this document useful 1 vote3K views8 pagesManusia Dan Kebutuhan Doktrin AgamaJump to Page You are on page 1of 8 You're Reading a Free Preview Pages 5 to 7 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Istilah Agama seringkali disamakan artinya dengan istilah religion yang berarti agama. Dalam bahasa Latin juga terdapat religio yang berarti agama, kesucian, kesalehan, ketelitian adalah Mengikat diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia dan yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia. Selain itu agama adalah pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber dari kekuatan manusia yang tidak bisa dipungkiri adalah kecenderungan menerima agama. Karena agama apapun yang diturunkan Tuhan ke dunia mempunyai implikasi yang sangat dibutuhkan oleh setiap manusia, seperti ketenangan, ketentraman hidup, bebas dari keresahan dan kegelisahan, selalu membimbing penganutnya kearah kebaikan dan kedamaian. Di dalam ajaran Islam, sumber jiwa keberagamaan manusia diterangkan dalam al-Quran bahwa Allah berfirmanBarang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya tak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati QS. Al-baqarah, 2;8. Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami benar-benar akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benr-benar beserta orang-orang yang berbuat baik QS. Al-ankabut, 29;69. Secara garis besar kebutuhan manusia dapat dibagi menjadi dua bagian; kebutuhan alamiah dan kebutuhan non alamiah, kebutuhan alamiah disebut juga dengan kebutuhan fitrah, suatu kebutuhan bagi setiap manusia dan bersifat azali. Termasuk dalam kebutuhan ini antara lain kebutuhan manusia terhadap yang telah disebutkan di atas, setiap manusia butuh terhadap agama, dengan demikian manusia sekaligus memiliki kecenderungan untuk selalu dekat dengan Tuhan, dengan kata lain manusia membutuhkan Tuhan. Di dalam al-Quran menjelaskan hal tersebut sebagai berikut"Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama Allah; manusia diciptakan Allah dengan membawa fitrah itu QS. Ar-rum, 3030".Secara sederhana dapat digambarkan bahwa setiap agama yang dianut oleh manusia memiliki tujuan pokok, antara lain terpenuhinya kebutuhan akan spiritualitas para penganutnya dan terwujudnya kedamaian di tengah masyarakat. Agama itu pada hakikatnya untuk kepentingan manusia, bukan untuk kepentingan Tuhan, sebab Tuhan tidak memperoleh keuntungan dari penerimaan manusia terhadap agama. Sebaliknya tidak juga menderita kerugian karena penolakan manusia terhadap ajakan agama. Jadi, semua keuntungan atau kerugian yang bersumber dari penerimaan dan penolakan manusia terhadap agama justru kembali kepada diri sendiri. Dari beberapa uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa manusia ternyata tidak bisa mengandalkan apa saja yang telah diciptakannya sendiri. Hal itu tetap saja tidak bisa memberikan ketentraman sejati dalam hidupnya. Manusia masih mengharapkan kepada suatu hal yang transenden atau bisa dikatakan tuhan yang menciptakan alam semesta ini. Oleh karena itu agama merupakan jalan keluar yang bisa diambil manusia untuk memenuhi kebutuhan akan jiwa spiritualnya. Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Manusia merupkan makhluk paling sempurna yang dianugerahi Allah SWT, berupa kesempurnaan fisik dan kepintaran akal. Untuk itu secara naluri, manusia sadar bahwa terdapat kekuatan Maha Besar sebagai tempat meminta pertolongan dan perlindungan. Dari situ kita sadar bahwa kita adalah makhluk yang lemah, meskipun diberikan berbagai kelebihan dibanding makhluk lain. Setiap manusia lahir dalam keadaan lemah dan tidak berdaya, serta tidak mengetahui sesuatupun. Sesuai firman Allah SWT dalam Q. S. An Nahl 16 78 Artinya "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur". Dalam keadaan lemah, manusia senantiasa dipengaruhi oleh berbagai macam godaan dan rayuan. Godaan yang muncul bisa dari dalam diri ataupun dari luar, berupa kebaikan Malak Al Hidayah ataupun keburukan Malak Al Ghiwayah. Disinilah peran agama dalam kehidupan manusia, yaitu membimbing manusia ke jalan yang benar agar terhindar dari kejahatan atau kemungkaran. Agama merupakan risalah yang disampaikan Allah SWT kepada para nabi-Nya untuk memberi peringatan kepada manusia. Memberi petunjuk sebagai hukum-hukum sempurna untuk dipergunakan manusia dalam menyelenggarakan tata hidup yang nyata. Mengatur tanggung jawab kepada Allah SWT, kepada masyarakat dan alam sekitarnya. Agama adalah kebutuhan umat manusia, karena didalamnya terdapat sumber ajaran mengenai berbagai segi kehidupan manusia. Agama mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, serta menghargai akal pikiran melalui pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mengajarkan manusia untuk bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual. Agama juga mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis, berorientasi pada kualitas, mengutamakan persaudaraan, dan berakhlak mulia. Menurut Malik Bennabi, agama adalah âkatalisatorâ yang selalu hadir dibalik kelahiran suatu peradaban. Contohnya, âkita dapat menjumpai kota-kota tanpa dinding, tanpa raja, tanpa peradaban, tanpa literatur, atau tanpa gedung teater, tapi seseorang tidak pernah menjumpai sebuah kota tanpa tempat-tempat peribadatan atau penganut-penganut agama. Sementara Henri Bergson 1859-1941, juga menulis ide yang sama, bahwa âkita jumpai di masa lampau dan sekarang, masyarakat tanpa sains, tanpa seni, tanpa filsafat, tapi kita tidak pernah menjumpai sebuah masyarakat tanpa agamaâ Karena agama âadalah fenomena universal dan sudah ada sejak lama dalam sejarah kehidupan manusia, mulai dari pemujaan patung-patung dan kepercayaan-kepercayaan yang paling primitif hingga Islam yang bertauhid. A. KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP AGAMA Menurut Malik Bennabi, fenomena beragama adalah fenomena yang sudah ada sejak lama sebagai karakteristik manusia, dari manusia yang sangat primitif sampai manusia yang sudah memiliki peradaban tinggi. Manusia digambarkan sebagai homo religiosus makhluk beragama. Sehingga agama bukan hanya sebagai aktifitas spiritual manusia, tetapi ia adalah fitrah universal yang tidak pernah luput dalam sejarah suatu bangsa baik masa lampau, sekarang, maupun yang akan datang. Secara naluri, manusia mengakui kekuatan dalam kehidupan ini di luar dirinya. Ini dapat dilihat ketika manusia mengalami kesulitan hidup, musibah, dan berbagai bencana. Ia mengeluh dan meminta pertolongan kepada sesuatu yang serba maha, yang dapat membebaskannya dari keadaan itu. Naluriah ini membuktikan bahwa manusia perlu beragama dan membutuhkan Sang Khaliknya. Al-Quran telah menjelaskan agama sebagai fitrah manusia, seperti yang terdapat dalam Ar Ruum 30 30, yang artinya "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuiâ. Beberapa faktor yang menyebabkan pentingnya agama sebagai kebutuhan manusia adalah sebagai berikut Faktor Kondisi Manusia Kondisi manusia terdiri dari dua unsur, yaitu unsur jasmani dan rohani. Untuk menumbuhkan dan mengembangkan kedua unsur tersebut, maka harus diberi perhatian khusus dan seimbang. Unsur jasmani membutuhkan pemenuhan yang bersifat fisik atau jasmaniah, seperti makan-minum, olah raga, bekerja dan istirahat yang seimbang, dan segala aktifitas jasmani yang dibutuhkan. Unsur rohani membutuhkan pemenuhan yang bersifat psikis mental, diantaranya pendidikan agama, budi pekerti, kasih sayang, dan segala aktifitas rohani yang dibutuhkan. Faktor Status Manusia Status manusia adalah sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, jika dibandingkan makhluk lain. Allah SWT menciptakan manusia lengkap dengan segala kesempurnaan, yang menjadikan manusia sebagai satu-satunya makhluk yang mempunyai kesempurnaan akal dan pikiran, hati nurani, kemuliaan, dan berbagai kelebihan lainnya. Dengan kesempurnaan yang dimiliki, Allah SWT menempatkan kita pada permukaan yang paling atas dalam garis horizontal sesama makhluk. Dengan akalnya, manusia mengakui adanya Allah SWT. Dengan hati nuraninya, manusia menyadari bahwa dirinya tidak lepasdari pengawasan dan ketentuan Allah SWT. Dan dengan agama, manusia belajar mengenal Tuhannya dan belajar cara berkomunikasi dengan sesamanya. Faktor Struktur Dasar Kepribadian Manusia Dalam teori psiko-analisis Sigmun Freud, struktur dasar kepribadian manusia terdiri dari tiga aspek, yaitu * Aspek Das es Aspek Biologis aspek ini merupakan sistem yang orisinal dalam kepribadian manusia yang berkembang secara alami dan menjadi bagian yang subjektif yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan dunia objektif. * Aspek Das ich Aspek Psikis timbul karena kebutuhan organisme untuk hubungan baik dengan dunia nyata. *Aspek das uber ich Aspek Sosiologis mewakili nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat. B. FUNGSI AGAMA DALAM KEHIDUPAN Secara terperinci agama memiliki peranan yang bisa dilihat dari beberapa aspek. Diantaranya adalah aspek keagamaan religius, kejiwaan psikologis, kemasyarakatan sosiologis, asal usulnya antropologis dan moral ethics. Dari Aspek Keagamaan Religius Agama menyadarkan manusia, tentang siapa penciptanya. Secara Asal usul Antropologis Agama memberitahukan kepada manusia tentang siapa, darimana, dan mau kemana manusia. Dari segi Kemasyatakatan Sosiologis Sarana-sarana keagamaan sebagai lambang-lambang masyarakat yang kesakralannya bersumber pada kekuatan yang dinyatakan berlaku oleh seluruh anggota masyarakat. Dan fungsinya untuk mempertahankan dan memperkuat rasa solidaritas dan kewajiban sosial. Secara Kejiwaan Psikologis Agama bisa menenteramkan, menenangkan, dan membahagiakan kehidupan jiwa seseorang. Dan secara Moral Ethics, agama menunjukkan tata nilai dan norma yang baik dan buruk, dan mendorong manusia berperilaku baik akhlaq mahmudah. C. RASA INGIN TAHU MANUSIA Human Quest for Knowledge Manusia lahir tanpa mengetahui sesuatu ketika itu yang diketahuinya hanya âsaya tidak tahuâ. Tapi kemudian dengan panca indra, akal, dan jiwanya sedikit demi sedikit pengetahuannya bertambah, dengan coba-coba trial and error, pengamatan, pemikiran yang logis dan pengalamannya ia menemukan pengetahuan. Namun demikian keterbatasan panca indra dan akal menjadikan sebagian banyak tanda tanya yang muncul dalam benaknya tidak dapat terjawab. Hal ini dapat mengganggu perasaan dan jiwanya, dan semakin mendesak pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin gelisah ia apabila tak terjawab. Hal inilah yang disebut dengan rasa ingin tahu manusia. Manusia membutuhkan informasi yang akan menjadi syarat kebahagiaan dirinya. D. DOKTRIN KEPERCAYAAN AGAMA Perlu dipahami bahwa dalam menjalankan fungsi dan mencapai tujuan hidupnya, manusia telah dianugerahi oleh Allah SWT dengan berbagai bekal seperti naluri insting, pancaindra, akal, dan lingkungan hidup untuk dikelola dan dimanfaatkan. Fungsi dan tujuan hidup manusia adalah dijelaskan oleh agama dan bukan oleh akal. Agama justru datang karena ternyata bekal-bekal yang dilimpahkan kepada manusia itu tidak cukup mampu menemukan apa perlunya ia lahir ke dunia ini. Agama diturunkan untuk mengatur hidup manusia. Meluruskan dan mengendalikan akal yang bersifat bebas. Kebebasan akal tanpa kendali, bukan saja menyebabkan manusia lupa diri, melainkan juga akan membawa kepada jurang kesesatan, mengingkari Tuhan, tidak percaya kepada yang gaib dan berbagai akibat negatif lainnya. Yang istimewa pada doktrin agama ialah wawasannya lebih luas. Ada hal-hal yang kadang tak terjangkau oleh rasio dikemukakan oleh agama. Akan tetapi pada hakikatnya tidak ada ajaran agama yang benar bertentangan dengan akal, oleh karena agama itu sendiri diturunkan hanya pada orang-orang yang berakal. Maka jelas bahwa manusia tidak akan mampu menanggalkan doktrin agama dalam diri mereka. Jika ada yang merasa diri mereka bertentangan dengan agama maka akalnya lah yang tidak mau berpikir secara lebih luas. SUMBER REFERENSI 1 Drs. M. Yatimin, Studi Islam Kontemporer 2 Prof. Dr. Amin Syukur, Pengantar Studi Islam 3 Al Qur'an dan Terjemah 4 Dr. Usman Syihab, Membangun Peradaban dengan Agama 5 Hardianto Prihasmono Ebook Ringkasan Shahih Bukhori
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Agama sangatlah penting dalam kehidupan manusia. Demikian pentingnya agama dalam kehidupan manusia, sehingga diakui atau tidak, sesungguhnya manusia sangatlah membutuhkan agama. Dan sangat lah dibutuhkannya agama oleh manusia, tidak saja dimasa primitif dulu sewaktu ilmu pengetahuan belum berkembang, tetapi juga di zaman modern sekarang sewaktu ilmu dan teknologi telah sedemikian lah yang telah membimbing kita kepada moral, prilaku dan cara hidup yang diridhai oleh Allah. Allah telah menjelaskan dalam Al-Qur'an bahwa orang yang patuh kepada agama akan berada di jalan yang benar, sedangkan Al-Qur'an memandang manusia sebagaimana fitrahnya yang suci dan mulia, bukan sebagai manusia yang kotor dan penuh itu, kualitas, hakikat, fitrah, kesejatian manusia adalah baik, benar, dan indah. Tidak ada mahluk di dunia ini yang memiliki kualitas dan kesejatian semulia itu, kewajiban untuk memahami, dan mengamalkan agama secara benar adalah tuntutan bagi setiap manusia. Baca juga 4 Fungsi Agama bagi Kehidupan Bermasyarakat Khususnya Islam, islam menganjurkan manusia yang memeluk agama islam itu secara menyeluruh tidak setengah-setengah, sehingga dengan kondisi seperti itulah rasa keyakinan kita terhadap agama yang kita anut perlu dimaksimalkan dengan mencari tau sungguh-sungguh, artinya didalam agama islam ada pondasi yang sangat mendasar yaitu pemahaman islam terdapat, konsep bahwa setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah, fitrah dalam hal ini berarti bayi dilahirkan dalam keadaan suci, tidak memiliki dosa apapun. Seseorang yang kembali kepada fitrahnya, mempunyai makna ia mencari kesucian dan keyakinan yang asli, sebagaimana pada saat ia fitrah adalah sesuatu yang netral pada jiwa tidak terikat oleh keinginan dan keperluan duniawi, fitrah hanya punya satu tujuan yaitu selalu ingin kembali kepada Tuhan penciptanya. Sedangkan pendapat Ibnu Katsir dalam kitab Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir II. Didalam nya membahas ayat alqur'an tersebut, ibn katsir menegaskan bahwa manusia memiliki fitrah beragama adalah sesuai dengan fitrah manusia. Sebab itu, orang-orang yang mengingkari agama adalah membohongi hati nuraninya sendiri, hal ini dibuktikan dari banyak peristiwa-peristiwa dimana orang-orang yang katanya anti agama, atau tidak percaya adanya Tuhan, pada saat-saat mereka mengalami kesulitan atau diwaktu mereka hampir mati, barulah mereka menyebut-nyebut nama Tuhan. Ada hadist yang membahas tentang pentingnya agama bagi manusia karena sebagai mahluk yang dianugerahi akal, manusia cenderung mencari hakikat dirinya diatas muka bumi juga Fungsi Agama dan Hubungan dengan Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia Saat Pandemi Covid-19Salah satu nya hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari, yaitu sebagai berikut"Dari Az-Zuhri dia berkata; telah menggambarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Abu Hurairah radliallahu'anhu berkata; Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda'seorang bayi tidak dilahirkan ke dunia ini melainkan ia berada dalam kesucian fitrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Masuji sebagaimana hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat tanpa cacat. Maka, apakah kalian merasakan cacat?' BUKHARI 1 2 Lihat Humaniora Selengkapnya
BAB I PENDAHULUAN Seperti makhluk-makhluk lainnya, manusia adalah ciptaan Tuhan. Dimana manusia tersebut mempunyai dua fungsi yaitu individu dan sosial. Dalam fungsinya sebagai makhluk individu, manusia mempunyai hak untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, misalnya pendidikan, kebahagiaan, dan sebagainya, sedangkan secara sosial manusia memerankan fungsinya sebagai makhluk sosial yang hidup dan berinteraksi dengan masyarakat. Manusia mempunyai kecenderungan untuk mencari sesuatu yang mampu menjawab segala pertanyaan yang ada dibenaknya. Segala keingintahuan itu akan menjadikan manusia gelisah dan kemudian mencari pelampiasan dengan timbulnya tindakan irrasionalitas. Munculnya pemujaan terhadap benda-benda merupakan bukti adanya keingintahuan manusia yang diliputi oleh rasa takut terhadap sesuatu yang tidak diketahuinya. Rasa takut tersebut menjadikan manusia beragama. Manusia diberi akal dan fikiran untuk bertindak sesuai dengan etika dan nilai-nilai moral yang berlaku sesuai dengan kehendaknya, lingkungan, dan ajaran agama yang dianutnya. Oleh karena itu, nilai-nilai memberikan arah dan makna bagi manusia dalam bertindak. Dengan adanya agama, manusia diberi pemahaman terhadap adanya kepercayaan-kepercayaan yang akan membuka cakrawala berfikir oleh para pemeluknya sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi tingkah lakunya pula. Bagaimanakah doktrin-doktrin agama mempengaruhi pola berfikir dan pola berperilaku manusia dalam perspektif Max Weber ? Untuk mengetahui doktrin-doktrin agama dalam mempengaruhi pola berfikir dan pola berperilaku manusia dalam perspektif Max Weber. BAB II ISI Istilah Dogma atau Doktrin Agama Doktrin adalah kepercayaan yang dipegang oleh sebuah institusi. Doktrin agama berarti kepercayaan yang dipegang oleh sebuah agama. Doktrin keagamaan, yang dipikirkan secara matang didasarkan pada bukti-bukti selain doktrin itu sendiri dan akhirnya kepada iman. Doktrin banyak ditemukan dalam banyak agama, dimana mereka dianggap sebagai prinsip utama yag harus dijunjung oleh semua umat agama tersebut. Istilah doktrin diberikan kepada ajaran-ajaran teologi yang dianggap telah terbukti baik, sedemikian rupa hingga usul batahan atau revisinya berarti bahwa orang itu tidak lagi menerima agama tersebut sebagai agamanya sendiri, atau ia mengalami keraguan-keraguan pribadi. Lebih rinci, doktrin mampu diistilahkan sebagai suatu bentuk tindakan yang mengharuskan atau memaksakan bahwa suatu kasus harus diyakini dan dibenarkan seperti apa yang disampaikan. Doktrin agama dalam perspektif sosiologi lebih menekankan pada unsur pengaruh yang ditimbulkan oleh doktrin-doktrin keagamaan dalam merekonstruksi perilaku sosial yang ada di masyarakat. Bagaimana dengan pemahaman dan kepercayaan-kepercayaan yang ditujukan kepada pemeluknya tersebut dapat mempengaruhi pola berfikir dan pola perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Konsep Rasionalisasi Max Weber Pada esensinya, sosiologi agama Weber bercirikan rasionalisasi yang progresif khas masyarakat Barat. Artinya Ă Sistematisasi yang mungkin tumbuh dari ide-ide keagamaan dan konsep-konsep keagamaan. Contoh dulu di Eropa segala macam dewa untuk segala benda. Sistematisasi sekarang monoteisme[1]. Ă Pertumbuhan rasionalitas yang etis dan kemunduran yang progresif dari unsur-unsur magis. Ă Weber adalah seorang pemikir evolusionis, karena dia memberikan perhatian kepada hancurnya kebudayaan Eropa yang tradisional kemudian munculnya sains modern dan kapitalisme modern yang berhubungan dengan industri kemudian kepada makin tumbuhnya birokrasi dan kepada sentralisasi politik. Ă Weber menolak definisi agama. Dia mengatakan bahwa agama merupakan kepercayaan mengenai yang gaib dan agama merupakan kepercayaan universal karena terdapat disetiap masyarakat. Doktrin-Doktrin Agama Dalam Hubungannya Dengan Perspekif Max Weber Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme Weber mengadakan penelitian mengenai peranan agama dan mengenai pengaruh agama atas etika ekonomi. Weber melihat reformasi Protestan menyebabkan perusahaan ekonomi yang merupakan gejala unik didalam sejarah manusia. Dikatakan unik karena tenaga pendorongnya adalah karena jiwa pengabdian dan tanggung jawab atas pekerjaannya. Menurutnya, pengikut aliran protestan mempunyai suatu etika kerja yang luar biasa, sehingga Weber mendalilkan adanya suatu hubungan antara etika Protestan dengan jiwa kapitalisme. Etika Protestan tumbuh subur di Eropa yang dikembangkan seseorang yang bernama Calvin. Penganut kaum protestan itu disebut sebagai Protestan Calvinisme[2] yang pada saat itu muncul ajaran yang menyatakan â seseorang pada intinya sudah ditakdirkan untuk masuk surga atau neraka, untuk mengetahui apakah ia masuk surga atau neraka dapat diukur melalui keberhasilan kerjanya didunia. Jika seseorang berhasil dalam kerjanya sukses maka hampir dapat dipastikan menjadi penghuni surga, namun kalau didunia selalu mengalami kegagalan maka dapat diperkirakan seseorang itu ditakdirkan untuk masuk nerakaâ. Khas Protestan adalah Kecenderungan kepada pekerjaan sering kali merupakan panggilan beruf = calling, yaitu pekerjaan itu merupakan tugas yang diciptakan Tuhan. Jadi, karena pekerjaan merupakan panggilan Tuhan, pekerjaan itu mesti dilaksanakan secara etis. Golongan Protestan terkenal sebagai pedagang yang jujur dalam transaksi mereka. Jujur merupakan kualitas yang tinggi.[3] Weber tertarik dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada orang-orang yang menyetujuinya. Weber meramalkan bahwasannya dengan doktrin-doktrin yang mengatasnamakan Tuhan, pada akhirnya akan menimbulkan pola fikir dimana konsekuensinya dapat berupa diantaranya - mereka berada di dalam aktivitas yang tiada henti-hentinya - dalam disiplin peribadi yang kuat - dalam meraih tujuan-tujuan mereka secara metodik - ditambah keyakinan bahwa mereka benar-benar termasuk diantara orang- orang yang dipilih Tuhan untuk diselamatkan. Weber mendefinisikan semangat kapitalisme sebagai bentuk kebiasaan yang sangat mendukung pengejaran rasionalitas terhadap keuntungan ekonomi. Semangat seperti itu telah menjadi kodrat manusia-manusia rasional, artinya pengejaran bagi kepentingan-kepentingan pribadi diutamakan dari pada memikirkan kepentingan dan kebutuhan kolektif. Namun, berbeda dengan protestan Puritanisme dan Lutheranisme - Puritanisme[4] mereka menganggap perasaan berpuas diri dianggap sebagai dosa besar, mereka adalah kelompok keagamaan yang memperjuangkan âkemurnianâ doktrin misalnya, kaum protestan ini menuntut agar kembali kepada ajaran alkitab saja, tanpa terlalu bermegah-megah. Tidak mempergunakan uang itu untuk berpuas diri. - Lutheranisme[5] ajaran khasnya adalah bahwasannya keselamatan manusia hanya diperoleh karena imannya kepada karya anugerah Tuhan, bukan hasil usaha manusia, bukan hasil usaha pekerjaan manusia, sehingga jangan ada orang yang memegahkan diri. Katholik Menurut Weber âKatolik yang lebih menekankan kehidupan kolektif, berorientasi komunitas yang menghasilkan sikap solider. Weber mengutip temuan pakar lain tentang orientasi nilai katolik âOrang Katolik lebih tenang, kurang serakahâ. Agama Di India Kajian Sosiologi Pada Agama Hindu Dan Budha. The Religion Of Hindia The Sociology Of Hinduism And Buddhism. Agama Hindu ditentukan oleh sistem kasta jati dan golongan warna. Setiap kasta dari golongan menjadi terkenal karena perbedaannya dari kasta dan golongan lain karena norma-normanya sendiri. Dalam agama hindu tidak terdapat etika yang universal, setiap kasta memiliki Dharma norma moral tersendiri. Suatu segi dari etika Hindu bahwa setiap orang mengikut-sertakan setiap norma dalam setiap pekerjaan. Misalnya Anggota kasta ksatria prajurit tidak pernah memperoleh apa saja didalam bidang etika kalau tidak patuh kepada standar kasta yang lain. Menurut weber - Sistem kasta menggambarkan konfrontasi yang secara terus-menerus antara berbagai cara hidup yang tidak sama. Cara hidup seseorang kadang-kadang lebih berarti cara hidup orang lain. - Bahwa berbagai jalan keselamatan terdapat untuk orang awam dan orang biarawan. Namun keselamatannya berbeda dan mempunyai kesucian pribadi. Misalnya prestasi orang awam tidak pernah dapat dibandingkan dengan prestasi seorang birawan. - Disamping cara hidup yang berbeda, agama Hindu bercirikan massa rakyat dan elit keagamaan. - Dalam agama hindu terdapat etika bahwa dunia adalah ciptaan Tuhan, karena itu orang harus bekerja keras dan bagi diri harus hidup sesederhana mungkin. Kasta tertinggi Brahmana, juga merupakan elit ekonomi. Mereka mencapai posisi ekonomis yang begitu tinggi, karena mereka menerima kompensasi untuk upacara ritual yang mereka laksanakan. Menurut Weber, di India yang berkembang adalah kapitalisme tradisional. Artinya, seorang karyawan pabrik di India memperlihatkan ciri-ciri yang khas kapitalisme tradisional, yaitu karyawan itu ingin menjadi kaya secepat mungkin. Karyawan itu tidak diberi semangat untuk bekerja lebih baik dengan upah yang lebih tinggi. Sikap disiplin dalam artian Eropa Barat adalah konsep yang tidak dikenal oleh agama Hindu. Industrialisasi modern dan kapitalisme modern tidak terdapat atas dasar sistem agama Hindu, karena sistem kasta ini melarang setiap perubahan. Setiap perubahan diancam dengan degredasi ritual pada waktu inkarnasi. Menurut weber, soal dasar struktur kasta ialah bahwa anggota kasta yang halus dan anggota kasta yang kasar tidak dapat saling menyentuh. Karena itu mereka tidak dapat bekerja sama. Menurut weber, sistem kasta Hindu menentang setiap bentuk kerja sama. Menurut Weber, tidak pernah menjadi dasar kapitalisme modern karena empat alasan a. Melarikan diri dari dunia. b. Agama Budha memiliki dua sistem etika yaitu, etika untuk orag awam dan sistem etika untuk para biarawan. c. Agama Budha tidak mempunyai etika tenaga ahli dengan panggilan calling = beruf. d. Agama Budha tidak mengenal asketisme yang rasional, yaitu yang dengan sengaja melayani Tuhan. Karena empat alasan tersebut, maka agama Budha tidak pernah menjadi dasar kapitalisme modern. Sedikit membahas mengenai agama Jaina Jainisme Ketertarikan Weber kepada Jainisme[6] karena Jainisme berasal dari lingkungan pedagang-pedagang. Pedagang Jainisme terkenal karena kejujuran mereka. Penganutnya terkenal sebagai orang yang kaya sekali. Menurutnya, Jainisme bukan saja menghubungkan kekayaan dengan kejujuran, tetapi juga menghubungkan dengan cara hidup mereka yang sistematis. Penganut Jainisme ini menjauhkan diri dari zat yang memabukkan, tidak makan daging, tidak minum madu, tidak berzina, tidak melibatkan diri dalam praktik yang tidak bermoral dan menghindari rasa harga diri. mereka mirip dengan Protestan Puritan. Namun, kapitalisme tidak terdapat pada Jainisme karena masih terdapat pembatasan ritual, mereka dilarang masuk industri. Menurut pandangan Weber, kapitalisme yang dianut mereka adalah kapitalisme kuno. The Religion of China Confucianism Taoism Menurut Weber, Cina dilambangkan oleh etika yang dualis yaitu - Suatu sistem etik untuk rakyat. Etika itu disebut Taoisme yang berarti sistem etika yang khas rakyat Cina. Ajaran pokok Taoisme adalah bahwa ada satu cara atau jalan alami yang dapat juga diikuti oleh manusia, asalkan dia membatasi ketamakannya untuk diri sendiri, persaingan dan sikap permusuhannya. Dia dapat melaksanakan sebaik-baiknya dengan cara meninggalkan semua kegiatan yang mendatangkan godaan-godaan ini, bukan dengan menilainya sebagai bagian dari jalan yang dapat memenuhi kehendak Tuhan. Jadi, godaan, menjauhkan diri dari politik, kemandirian, bukan ketamakan, sebagai tujuan ekonomik, bersumber dari pandangan Taoisme. Penghalang bagi kaum kapitalisme ini, diperkuat dengan kecenderungan untuk kembali kepada magi sihir yang menurut weber itu dibenarkan dan bahkan didorong oleh Taoisme. Etika elit[7] ini disebut Konfusianisme. Adapun pemikiran terpeting Kofusius adalah penekanan pada identifikasi etika dengan politik. Berdasarkan pemikiran ini, konfusius berpedapat bahwa ilmu pemerintahan pertama-tama merupakan pertanggung-jawaban yang sarat moral. Jadi sistem konfusianisme merupakan sistem elit yang memerintah Cina. Untuk menjadi anggota elite, seseorang harus membuktikan bahwa dia telah memperdalam dan lulus karya-karya klasik. Dalam mendalami karya-karya klasik itu seseorang Konfusius, menanamkan kapitalnya dalam pendidikan, penambahan kekuatan karir. Mereka menggunakan kekayaannya tidak untuk mendapatkan keuntungan, tetapi untuk mencapat status, yaitu cara hidup yang bermartabat. Ciri lain khas sistem ini adalah kecurigaan kaum Konfusianis bahwa setiap pegawai elit saling mencurigai. Kejujuran tidak terdapat didalamnya. Menurut Weber, kecurigaan itu mencampurkan semua transaksi yang ekonomis dengan unsur-unsur yang irasional. Kesimpulan Weber dalam hal ini adalah bahwa Etika Konfusianisme bersifat skeptis sekali terhadap magi, sebaliknya dari Taoisme yang menjadi kebanyakan rakyat Cina sangat percaya kepada perbuatan-perbuatan magi. Jadi, Weber mengambil konklusi bahwa âTerdapat pemisahan antara agama-agama di India dan agama-agama di China terdapat pemisahan antara raja dan agama rakyat. Karena itu terdapat sistem etika yang berbeda dalam masyarakatâ.[8] The Religion Of Islam - menganjurkan manusia untuk bekerja keras. - ayat yang menerankan bahwa apabila kamu telah selesai dengan satu urusan segeralah bekerja untuk urusan yang lain karena ada kebaikan dibaliknya. - Beribadahlah seakan kamu mati besok dan bekerjalah seolah-olah akan hidup selamanya. - Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mengubahnya sendiri. - dalam sebuah ayat disebutkan bahwa setelah menyelesaikan ibadah shalat, diperintahkan untuk bertebaran dimuka bumi ini dalam ranka mencari karunia Allah. Namun mekanisme penyeimbangan yang digunakan untuk membatasii kepemilikan pribadi dengan kewajiban membayar zakat, infaq, dan sedekah. Oleh sebab itu, kapitalis tidak dikenal dalam islam dan tidak mendewakannya pula. Karena dalam islam, setiap pekerjaan yang dilakukan adalah untuk mengharap ridho Allah semata. Karisma adalah gejala sosial yang terdapat pada waktu kebutuhan kuat muncul terhadap legitimasi otoritas. Weber menekankan bahwa yang menentukan kebenaran karisma adalah pengakuan pengikutnya. âWeber memandang karismatik sebagai salah satu dari tiga landasan kekuasaan yang dimiliki seorang terhadap orang lain di bidang politik, militer, agama dan intelektual. Kekuasaan karismatik ditemukan dalam pribadi yang penuh kreatif, inovatif yang diakui oleh pengikut atau orang yang ditundukkanâ. Pemimpin karismatik mengembangkan gaya tindakan dan ciri kepribadian unik yang membantu memperkuat citra mereka sebagai utusan Tuhan, jelmaan nabi, pertanda sejarah, pemimpin rakyat, dan sebagainya. âMereka mengambil jarak dari pengikut dan melakukan tindakan luar biasa untuk membuktikan kekuatan khusus mereka. Mereka sangat dogmatis, sangat fanatic dan tidak menolelir kritik. Sehingga menimbulkan fenomena Think and thank menanamkan keyakinan tentang betapa sangat berkuasa, bijaksana, dan adilnya pemimpin ituâ.[9] Mereka mengambil jarak dari pengikut dan melakukan tindakan luar biasa untuk membuktikan kekuatan khusus mereka. Mereka sangat dogmatis, sangat fanatik dan tidak menolelir kritik. BAB III PENUTUP Kesimpulan ĂŒ Doktrin agama dalam perspektif sosiologi lebih menekankan pada unsur pengaruh yang ditimbulkan oleh doktrin-doktrin keagamaan dalam merekonstruksi perilaku sosial yang ada di masyarakat. ĂŒ Weber menolak definisi agama. Dia mengatakan bahwa agama merupakan kepercayaan mengenai yang gaib dan agama merupakan kepercayaan universal karena terdapat disetiap masyarakat salah satu konsep rasionalisasi. ĂŒ Doktrin-Doktrin Agama Dalam Hubungannya Dengan Perilaku Ekonomi Masyarakat, kajian Weber mengenai Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme Calvinisme, Lutheranisme juga mengenai etika Katholik, agama di India Hindu dan Budha, agama di Cina Confucianism Taoism, dan sedikit membahas mengenai doktrin-doktrin dalam agama Islam. ĂŒ Karisma adalah gejala sosial yang terdapat pada waktu kebutuhan kuat muncul terhadap legitimasi otoritas. Pemimpin karismatik mengembangkan gaya tindakan dan ciri kepribadian unik yang membantu memperkuat citra mereka sebagai utusan Tuhan, jelmaan nabi, pertanda sejarah, pemimpin rakyat, dan sebagainya. Saran Setiap pemeluk agama tentu menganggap bahwa agama yang dianutnya adalah benar sehingga setiap doktrin yang disampaikan diikuti dengan penuh rasa tanggung jawab. Dalam kaitannya dengan ekonomi masyarakat, diharapkan jangan sampai oleh karena adanya doktrin-doktrin tersebut membawa masyarakat menjadi tamak terhadap perekonomian karena terlalu mengejar-ngejar duniawi sehingga ditakutkan akan membawa manusia kedalam individualisme, hanya mementingkan peran personal dan tidak mementingkan peran sosial. DAFTAR PUSTAKA Scharf Betty R. 2004. Sosiologi Agama Edisi Kedua. Jakarta Kencana. Abdullah Syamsuddin. 1997. Agama Dan Masyarakat Pendekatan Sosiologi Agama. Jakarta Logos Wacana Ilmu. Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta Prenada. [1] Monoeisme adalah kepercayaan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa. [2] Protestan Calvinisme merupakan suatu faham yang dikembangkan oleh seseorang yang bernama âCalvinâ. [3] Max Weber, The Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism, 1904. [4] Puritanisme adalah suatu faham kepercayaan yang di anut kaum puritan yang berasal dari Inggris pada abad ke 16-17 [5] Luheranisme adalah suatu faham kepercayaan yang di anut oleh kaum Lutheran [6] Jainisme merupakan sebuah agama Dharma dan Jaina bermakna penakhlukkan. [7] Elite yaitu orang-orang yang terbaik atau pilihan disuatu kelompok. [8] Syamsuddin Abdullah, Agama dan Masyarakat Pendekatan Sosiologi Agama, ibid.,hlm. 38. [9] Piotr Szompka, Sosiologi Perubahan Sosial, ibid., hlm. 318.
manusia dan kebutuhan doktrin agama